Mereka adalah anak-anakmu

Mereka adalah anak-anakmu

Oleh : Atho’urrohman®

Kegiatan belajar mengajar adalah inti dari proses pendidikan. Jika kegiatan belajar itu dilaksanakan dengan baik, maka akan menghasilkan out put yang baik pula. Selain itu peran para stake holder juga merupakan bagian penting dalam proses itu.

Guru, siswa, karyawan, komite madrasah perlu untuk menyamakan persepsi untuk menyatukan langkah dalam mencapai visi dan misi madrasah. Dan visi misi itu sendiri hendaknya disusun bersama seluruh komponen, agar dalam upaya pencapaiannya ada kekompakan dan keserasian langkah.

Karena di sini penulis berperan sebagai guru, maka disini kami mencoba mengurai peran guru dalam proses pembelajaran. Penulis meyakini bahwa hitam putihnya pendidikan di sekolah itu tergantung pada guru. Bukan berarti guru adalah subyek pendidikan. Maksud kami disini adalah bagaimana guru itu mencoba mendidik dan mengajar anak dengan berbagai metode yang tepat dan relevan dengan kondisi. Adanya persoalan orang tua siswa yang mungkin kurang perhatian terhadap anaknya, ataupun fasilitas yang kurang memadai bukanlah menjadi alasan anak untuk tidak menjadi pintar.

Adanya ketidakaktifan guru adalah sebuah persoalan penting yang harus segera diatasi. Bagaimana mungkin kita sebagai seorang guru, menjalankan tugas kita dengan setengah hati. Sedangkan disana, mereka yang mempercayakan pendidikannya kepada kita, berharap sepenuh hati akan mendapatkan pendidikan yang terbaik untuk anaknya.

Penulis, (yang juga termasuk malas) mencoba merenung dan mencari titik tolak untuk membangun kedisiplinan diri. Agar bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anak didikku.

Ada satu pemikiran yang penulis dapatkan. “mungkin jika kita mengilhami peran kita sebagai orang tua siswa di sekolah, maka kita akan bisa lebih serius dalam melaksankan tugas kita”. Ya, pandanglah mereka sebagai anak-anak kita yang kita inginkan mereka tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas, pintar, baik akhlaknya dan kelak menjadi orang sukses.

Mereka adalah anak kita, yang harus kita bangun jiwanya, kita bangun akhlaqnya, kita rangsang kecerdesannya, kita arahkan bakatnya dan kita bangun keimanan dan ketaqwaanya. Mereka bergantung kepada kita. Kalau bukan kita kepada siapa lagi mereka mencari teman belajar yang terbaik. 5 jam lebih setiap hari mereka berangkat ke sekolah, untuk mendapatkan pembelajaran di sekolah. Dan seterusnya waktu berjalan, hingga akhirnya mereka lulus. Namun apa artinya kelulusan mereka itu, bila ternyata keluar dengan membawa hasil yang sedikit.

Namanya anak memang berbeda-beda dan terkadang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Ada yang bandel, ada yang malas, ada yang rajin ada juga yang manja (ingin mendapatkan perhatian lebih). Tapi justru di situlah peran kita dibutuhkan.  Bagaimana agar anak bandel itu bisa menjadi anak yang baik. Bagaimana anak yang malas bisa menjadi rajin, bagaiamana anak yang manja mendapatkan perhatian seperti yang mereka inginkan. Bagaimana anaka yang mempunyai IQ rendah bisa memahami pelajaran sama dengan mereka yang punya IQ lebih cerdas. Ini adalah PR bagi kita semua.

Karena kita mengajar itu bukan saja untuk membuat anak kita pandai dalam ilmu, tapi kita juga berperan pendidik. Jadi selain mengajarkan materi kurikulum, betapa lebih penting lagi kita memperhatikan kepribadian mereka. Banyak dari siswa yang secara normatif memahami suatu materi, namun tidak mau dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebut saja pelajaran PKN. Pada soal-soal yang kaitannya dengan memilih sikap yang benar mereka dengan mudah mampu memilih dan menjawabnya. Namun pada kenyataan perilakunya berbeda. Nah, disinilah peran kita sebagai pendidik itu dibutuhkan.

Agar bisa menjalankan dua peran itu, maka cintai dan sayangilah mereka, sebagaimana kita menyanyangi anak-anak (kandung) kita. Adakah perbedaan dari mereka yang anak didik kita, dengan anak kandung kita. Tentu tidak. Mereka sama-sama membutuhkan pendidikan yang terbaik dalam hidupnya. Sebagai bekal kehidupan ke depan.

Semoga penulis bisa

Ing ngarsa sung tuladha

Ing madya mangun karsa, dan

Tutwuri handayani

(bersambung).

® Guru Kelas III MI Wasilatul Huda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s