>romantiskah kita?

>
Romantiskah hubungan kita?
26 mei 2009

Alloh menciptakan kita dengan dua peran. Yakni sebagai hambanya dan sebagai khalifahnya di muka bumi. Keduanya hendaknya dilaksanakan secara seimbang. Kita sebagai hambanya berkewajiban untuk melakukan ubudiyah ilahiah, atau ibadah yang langsung berhubungan dengan Allah. Seperti shalat dan haji. Sedangkan sebagai khalifahnya kita berkewajiban untuk mengejawantahkan sifat-sifat demi untuk meraih rahmatan lil alamin.
Seperti yang kita ketahui, islam datang tidak hanya mengatur hubungan hambanya dengan Dia. Malainkan juga adalah hubungan antar sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam. Jadi manusia memiliki tiga hubungan sosial yang harus bejalan dengan harmonis, 1, hablun min Alloh, 2, hamblun minannas dan 3 hablun minal alam. Jika ketiga hubungan tersebut berjalan romantis, maka kemungkinan barulah kita bisa merasakan rahmatan lil alamin. Rahmat lil alamin dengan kata lain haruslah kita perjuangkan bersama-sama.
Nah, sekarang masilah kita muhasabah/mencoba dengan jujur mengintropeksi diri kita sendiri bagaimanakah kita menjalin ketiga hubungan di atas.
Pertama, sebagai hambanya apakah kita sudah melaksanakan semua perintahnya dan menjauhi segala larangannya?
Ke dua, sebagai khalifahnya di muka bumi ini, sejauh manakah kepedulian kita terhadap saudara dekat kita, terhadap tetangga kita, terhadap teman kita, terhadap masyarakat kita dan terhadap negara kita. Ataukah selama ini kita hanya sibuk untuk memikirkan tentang kebahagiaan kita sendiri. Ketika kita makan dengan enaknya, apakah pernah kita teringat terhadap mereka yang sudah tiga hari tidak hidup dengan perut kosong. Ketika kita tidur di atas ranjang yang empuk, pernahkah kita sekedar memikirkan tentang mereka yang tidur dengan alas kardus, di depan-depan toko, di bawah kolong jembatan, dan di pinggiran rel kereta api. Ketika kita berbangga dengan title yang kita sandang, apakah itu Prof, Dr, M.pd, dan lain sebagainya, pernahkah kita terbersit untuk membagi ilmu kita dengan mereka yang yang masih bergelimang kebodohan.
Betapa oh betapa tidak berharganya ilmu yang kita miliki, ketika kita tidak bisa berbagi ilmu dengan yang lain. Betapa tidak berharganya harta yang kita miliki, ketika di kanan kiri kita mereka masih bergelimang dengan pilu dan perih. Betapa tidak berharganya hati yang kita miliki, ketika kita tidak bisa peduli dengan sesama.
Ke tiga, sejauh mana kepedulian kita terhadap kelestarian alam. Dimana alam sekarang ini sudah demikian rusaknya. Hutan-hutan yang gundul, kota yang selalu tergenang air dan bumi selalu retak. Apa yang sudah kita lakukan untuk melestarikan kehidupan alam kita ini. Sedangkan kita tahu, bahwa alam memiliki peran penting dalam melanjutkan kehidupan manusia. Bencana-bencana yang silih berganti seharusnya sudah lebih dari cukup untuk menjadi peringatan bagi kita untuk segera merubah dan memperbaiki ketiga hubungan di atas. Semoga kita termasuk hambanya yang bisa menjadi pemimpin sejati, bukan pemimpin yang berkedudukan, tapi pemimpin yang sebenarnya. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s