>kejujuran

>
Masih adakah kejujuran itu?
26 mei 2009
Seiring dengan bertambah kompleksnya kehidupan di sekitar kita, diakui atau tidak pasti berpengaruh terhadap pola pergaulan dan tatanan nilai sosial. Termasuk di dalamnya adalah memudarnya nilai kejujuran.
Bahkan sekarang, untuk membendung hal tersebut Bupati Bojonegoro Sekarang, Kang Yoto menekankan masalah pakta kejujuran terhadap semua jajaran pejabat di bawahnya. Pertanyaannya adalah apakah mungkin kejujuran masih dapat berdiri tegak lagi. Sedangkan hati masyarakatnya seperti tanah yang telah mengeras seperti batu karena jarang mendapatkan air hujan. Manakah mungkin kita menancapkan tiang di atasnya.
Bahkan kini kejujuran mengalami dikonotasikan dengan ke”lugu”an. Orang-orang yang masih memegang prinsip kejujuran dianggap sebagai orang yang masih lugu atau polos, yang sama sekali mudah untuk ditipu dan diperdayai.
Keadaan sekarang ini seperti memaksakan kita untuk memendam kejujuran, hingga kalimat “Jujur bakale Ajur” seperti sebuah pepatah yang sembilanpuluhpersen benar. Jika pandangan setiap orang seperti itu, maka apakah masih mungkin kujujuran itu bisa tumbuh. Kejujuran personal satu-dua orang mungkin masih ada, namun tak mampu membangun kejujuran kolektif. Padahal sebuah tatanan nilai haruslah didukung oleh kesamaan perspektif halayak masyarakat. Jika tidak maka akan terjadi kepincangan, ketika kejujuran dibalas dengan perdaya.
Persoalan dalam kehidupan kita kian kompleks. Dan salah satu pendukung utamanya adalah tiadanya kejujuran. Para pejabat melakukan korupsi karena tak mempunyai kejujuran itu. Dan telah nyata, seorang bendahara kebanyakan mempunyai dua pembukuan. Pertama adalah buku pintar, dan yang ke dua adalah buku bento. Buku pintar adalah buku yang berisikan tentang pembukuan keuangan yang sebenarnya. Sedangkan buku bento adalah sebuah pembukuan keuangan yang menipu dan hanya berusaha menyesuaikan dengan alokasi bajet seharusnya.
Para pedagang juga sudah banyak yang tidak jujur. Seperti penjual abon sapi yang ternyata isinya adalah daging babi. Bahkan ada yang menjual daging bangkai yang diakui sebagai daging segar. Padahal daging tersebut sudah lama, dan memang bisa bertahan lama karena diberikan formalin. Bahkan penjualan formalin yang sekarang sudah diperketat pun masih bisa saja dicurangi. Katidakjujuran seperti sebuah keharusan yang tiap orang sekarang erat sekali dengannya.
Oleh karena itu, kita harus mengawali dari diri kita sendiri. Ibda’ binafsik. Biarkan orang lain mencoba menipu, kita harus bulatkan tekad untuk tetap jujur. Karena pasti becik ketitik ala ketara. Siapa yang berbuat kebaikan seberat biji zarrah, maka dia akan melihatnya, dan siapa yang berbuat kejahatan seberat biji zarrah pun, dia juga akan melihatnya kelak di akhirat. Kecuali mereka yang bertaubat dan kembali pada jalan Allah. Semoga kita termasuk dari golongan hambanya yang saleh dan kelak kembali dalam pelukan kasih sayangnya. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s