>Jilbab adalah ….

>Hari ini aku berangkat lebih awal, karena hari ini aku piket kebersihan kelas. Sekolah masih sepi, dan baru beberapa anak yang datang. Sama sepertiku, mereka yang datang lebih awal adalah anak-anak yang lagi piket. Oya ada satu lagi alasan bagi mereka yang berangkat lebih awal, yaitu menanti contekan buat ngerjain Pe Er, yang ia hianati tadi malam.
Sejengkal demi jengkal ruangan kelas aku bersihkan. Dan ku buang di tempat sampah. Annadhofatu minal iman selalu ditanamkan oleh guru-guruku di sekolah ini, sekolah MTs Wasilatul Huda yang ku cintai apa adanya. Sekolah yang memberikanku sahabat sejati, yang bernama Nabila. Aku dan dia begitu dekat. Salah satu bebatuan yang ada di pegunungan Lawu telah terukir nama “Farida n Nabila”. Tulisan itu kami tulis sewaktu liburan semester pertama lalu, saat kami piknik kesana.
Sampah tak menumpuk di tempatnya. Nabila pun datang dan mau masuk kelas. aduh!!!!! Braakkk!!! Pasti deh si Nabila, pura-pura gak sengaja nendang tempat sampah itu. Tumpah deh… tanpa menunggu lebih lama lagi, ku kejar dia, buat njewer telinganya. Dan seperti biasa, dia lari sambil cekikikan. Dan terkadang aku sampai lupa belum membersihkan sampah yang berserakan itu. Dan kena omelan, haduh.
Hari ini jam pertama adalah matematika. Anehnya ku lihat Nabila si hidung kucing itu kok tenang-tenang aja. Apa dia sudah mengerjakan? Ah, mana mungkin dia mengerjakan PR tanpa tanya padaku. Biasanya kan gitu. Atau mungkin dia tidak tau kalau tidak ada PR? Ah biarin aja deh. Sengaja tak ku beri tahu dia, biar kapok, kena hukuman dari bu Isti. Asyiiiiiiiik, hehe.
Bel berbunyi dan Bu isti masuk ke dalam ruangan. Setelah mengucapkan salam, beliau langsung meminta PR kita dikumpulkan. Dan saat semua teman mengumpulkan, ku lihat Si Nabila tetap tenang, dan bahkan mengeluarkan bukunya juga?
“Mangnya kamu ngerjain PR juga Bil?
“Iya dong, aku kan anak manis, hehe,” jawab Nabila sambil cengar-cengir sok kemanisan. Tapi senang juga melihat dia jadi rajin gini. Tapi angin mana ya yang sudah merubah sahabatku itu?
Saat istirahat ku ajak dia ke kantin. Seperti biasa di sana sudah ada Novan, Jeki dan Roni. Tapi tak seperti biasanya, kali ini Nabila tak lagi suka bercanda dengan mereka. Bahkan saat Novan duduk di sampingnya untuk menggoda-goda dia, dia langsung mengambil tempat duduk yang lain. Dan Nabila membentak Novan saat Novan mendekatinya untuk ke dua kalinya. Kontan, Novan bertanya-tanya ada apa gerangan? Diman Nabila yang akrab dan ramai itu? Begitu keceawa Novan pun kembali ke tempat awalnya, sambil menggerutu tak jelas apa yang diomongkan.
“Da, kita nggak usah lama-lama ya disini?” kata dia.
“Lho, memangnya kenapa Bil? Biasanya kan kita menghabiskan waktu istirahat kita disini, bersama mereka, tuh lihat tu, Novan kecewa banget tuh sama kamu, apa kamu ngga’ kasihan?” tanyaku.
“Udah, biarin aja napa? Kalau gitu aku cabut dulu ya” belum sempat ku jawab, dia dah ngga’ kelihatan batang hidungnya lagi. Dalam hati berjejal tanya, “Ada apa dengan Nabila?”
Dan ternyata kejadian yang hampir sama tak hanya terjadi pada waktu istirahat hari ini aja. Esoknya, esoknya lagi dan seterusnya dia pun begitu. Terkadang ku berpikir apakah aku punya salah dengannya, ataukah Novan dan kawan-kawan itu yang punya salah dengan dia. Tapi nyatanya dia tetap baik dan menyapa ketika berpapasan. Lalu kenapa?
Terkadang aku merasa rindu pada Nabilaku yang dulu, yang suka bergaul dan ramai saat ada dia. Kini dia cenderung diam, meski juga tetap bercanda. Tapi terasa kurang Nabila banget gitu.
Hari ini, hari Sabtu. Nabila ngga’ masuk. Pastinya hari ini kian sepi. Tapi otakku tetap penuh dengan tanda tanya tentang Nabila. Setelah pulang sekolah nanti ku berencana ingin bermain ke rumahnya. Apalagi sudah lama aku tidak main ke rumahnya, kangen juga sama Ibu’ (panggilanku untuk mamanya Nabila).
Ku ajak Novan, Jeki dan Roni nggak ya enaknya? Bagaimanapun juga kami berlima adalah sahabat. Aku tau mereka juga ingin tau ada apa dengan Nabila. Kami sepakat pergi ke rumah Nabil pukul tiga sore nanti.
Detik menumpuk menjadi menit. Menit pun menumpuk menjadi jam. Tibalah pada waktu janjian kita. Sampailah aku dan mereka di depan rumah Nabila. Ku lihat novan dan Roni kurang bersemangat dan agak diselipi rasa takut. Dan seperti bisa jeki selalu senang saat aku ajak bermain ke rumah Nabila. Karena dia bisa melihat saat Nabila tidak memakai jilbab, dan bahkan pakai celana pendek yang bener-bener pendek banget. Trend mode saat ini katanya.
“Assalamu’alaikum”…
“Wa’alaikumsalam” keluar dari dalam rumah seorang perempuan berjilbab. Aku sepertinya kenal dengan perempuan itu. “Subhanallah, Nabila? Engkaukah itu?, Subhanallah, Allahu Akbar”. Betapa terkejut dan senangnya hatiku, ternyata kini Nabila berjilbab tidak hanya ketika sekolah saja, di rumah pun kini ternyata juga berjilbab. Ku peluk erat dia, tuk melepaskan bahagiaku. Novan, Jeki dan Roni pun kini tak lagi berani bercanda kelewatan dengannya. Karena kita bukanlah muhrim, jadi memang sudah seharusnya seperti itu.
Dan setelah ku desak saat ku tanya dia pergi kemana waktu istirahat? Ternyata dia pergi ke Mushalla untuk melaksanakan shalat Dhuha. Subhanallah.
“Da… doakan semoga aku bisa istiqomah ya?”
“Tentu Sayang” jawabku.
“Kini aku tak mau lagi berjilbab hanya karena seragam wajib sekolah. Aku berjilbab untuk menutup auratku. Dan semoga hati ini juga berjilbab, biar telindung dari penyakit hati”
“Aminnnnnnnnnn….” Tanpa dikomandu kami berempat kompak mengamini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s